Showing posts with label artikel pendidikan. Show all posts
Showing posts with label artikel pendidikan. Show all posts

Friday, July 5, 2013

Manfaat Bermain Balok

Banyak orang tua siswa yang bertanya, mengapa harus bermain balok?

Bermain balok memiliki banyak manfaat bagi perkembangan domain berpikir anak. Mulai dari estetik hingga sosial. Semua domain dapat terbangun jika pendampingan guru dalam bermain balok sesuai dengan prosedurnya. Berikut ini merupakan manfaat dan alasan kenapa anak - anak harus bermain balok :


Share:

Friday, February 8, 2013

Kita Salah Didik Sejak TK

Oleh: Yudhistira ANM Massardi

Kenapa bangsa kita bisa menjadi begini amburadul? Teman saya,Wismiarti, seorang ibu yang dokter gigi, punya satu jawaban,yang didapatnya dar i koleganya di Australia: ”Karena orang-orang Indonesia salah didik sejak dari Taman Kanak-kanak!” Kondisi itu diperparah oleh sikap para orangtua yang semberono di dalam mendidik anak-anak mereka di rumah.

Mengingkari sunatullah
Anak-anak balita (golden age) di kota-kota besar di Indonesia, dibiarkan mengalami ketelantaran cinta dan makna. Para ibu ”modern” -- karena alasan kepraktisan dan mengutamakan kerja di luar rumah -- lebih memilih tidak memberikan ASI eksklusif selama enam bulan kehidupan awal sang bayi. Padahal, tindakan itu tidak hanya berarti tidak memberikan pelukan, kenyamanan, kebahagiaan, ketenangan, membantu penyambungan sel-sel otak anak, membangun kepercayaan anak terhadap ibu; melainkan juga mengingkari ketentuan Allah.

Tak cuma itu. Mereka pun menyerahkan pendidikan anak-anaknya kepada para  pengasuh bayi, yang entah seperti apa kualitas moral, ilmu, cinta dan bahasanya. Padahal, perkembangan otak dan pertumbuhan akhlak dan jiwa anak-anak balita sangat bergantung kepada asupan informasi dan modelling orang-orang dewasa di sekitarnya. Justeru pada usia balitalah anak-anak sangat membutuhkan peranan aktif dari, terutama, ibunya.

Pada saat itulah, masa depan anak ”ditentukan.” Jika momentum yang luarbiasa  penting itu diserahkan kepada babby sitter, kita ”tahu” seperti apa isi otak dan masa depan mereka. Anak-anak akan hidup tanpa cinta, sel-sel otaknya tidak tersambung maksimal, proses belajarnya tidak sesuai dengan tahapan, kepercayaan dirinya rendah, mereka akan sulit memahami makna segala sesuatu, dan dunia serta kehidupan akan dijalani secara serampangan, tanpa ada kesadaran akan tanggungjawab dan misi suci. 

Metode Sentra 
Maka, setelah mendapatkan jawaban yang fundamental dan menyentak itu, teman saya tadi, langsung memutuskan untuk berhenti praktek sebagai dokter gigi. Pada 1996, ia mendirikan Sekolah Al-Falah, dimulai dari TK, di Ciracas, JakartaTimur. Itu diawali dengan studi banding ke beberapa sekolah TK di Australia, Eropa, dan Amerika Serikat. Akhirnya, ia memutuskan untuk mengadopsi metode BCCT (Beyond Center and Circle Time/Lebih Jauh tentang Sentra dan Saat Lingkaran) yang kemudian dikenal sebagai “Metode Sentra.” Metode itu, yang “play-based learning” dikembangkan di Creative School, Talahase Florida, Amerika Serikat, yang dibangun oleh Pamela Phelps Phd. pada 1970. Adalah Pamela Phelps yang hingga kini menjadi konsultan Sekolah Al-Falah.
Dengan Metode Sentra, sejak usia dini, anak-anak diajak menjalankan nilai-nilai  mulia sebagaimana yang diajarkan oleh semua agama, seperti hormat, jujur, sayang teman, rajin, tanggungjawab, disiplin, dan lain-lain. Nilai-nilai positif itu dialirkan melalui program sehari-hari, seperti saat makan, main, atau pun menjelang tidur.
Kemampuan klasifikasi pun dibangun sangat kuat. Klasifikasi pada benda kongkret  (alat permainan edukatif) berdasarkan warna, bentuk, dan ukuran, diajarkan pada diri anak (seyogianya sejak bayi). Di setiap Sentra, kemampuan itu terus ditingkatkan, baik saat main maupun saat membereskan mainan tersebut.

Jika klasifikasi pada hal-hal yang kongkret sudah terbangun, maka kelak di kala  dewasa, mereka akan mampu menglasifikasi hal-hal yang abstrak. Anak akan mampu membedakan mana yang salah dan mana yang benar. Kelemahan dalam klasifikasi, berpikir kongkret dan juga berpikir abstrak, itulah yang, antara lain,menyebabkan korupsi merajalela, dan manusia Indonesia – sebagamana kita lihat  di kalangan eksekutif, legislatif, yudikatif -- tidak memahami apa tugas dan tanggungjawabnya.
Dalam hal membangun disiplin anak, Sekolah Al-Falah menerapkan “disciplin with  love.” Disiplin dijalankan melalui simulasi langsung, sehingga anak-anak tahu dan mengerti tentang mengapa dan untuk apa aturan itu dibuat. Misalnya, pada saat main balok, anak diberi tahu bahwa balok untuk membangun. Jika balok digunakan untuk hal lain, maka bisa berbahaya bagi diri sendiri maupun orang lain, karena balok terbuat dari kayu dan mempunyai sudut yang tajam.

Untuk pelajaran membaca, metoda BCCT sangat berbeda dengan cara belajar yang umum berlangsung di Indonesia yang melalui cara mengeja A, B, C, serta siswa disuruh duduk rapi dengan tangan dilipat di atas meja. Dengan menggunakan Sentra, kemampuan dan keterampilan anak dibangun melalui main, tanpa tekanan dan paksaan dari guru dan lingkungan. Dengan Sentra, pengetahuan dan keterampilan (knowledge) anak diorganisir secara rapi.

Dilarang melakukan “Tiga M” 
Metode Sentra membuat anak belajar dengan gembira, dan sekolah jadi menyenangkan. Suasana nyaman dan menyenangkan harus dicapai. Maka, guru dilarang melakukan ”Tiga M”: menyuruh, melarang, marah/menghukum. Karena, jika anak dalam kondisi tertekan, kecewa, sedih, atau marah (emosi negatif), maka ia tidak akan dapat belajar. Berdasarkan penelitian, otak pusat berpikir manusia tidak akan berfungsi jika emosi dalam keadaan negatif. Dengan memosisikan anak sebagai subyek dan bukan obyek, seluruh potensi kecerdasan bisa dibangun, dan anak akan tumbuh menjadi pribadi kreatif, percaya diri, dan bahagia.

Metode Sentra membangun anak pada delapan domain, yaitu afeksi, estetika, kognisi, psikomotor, bahasa, sosial, pembangunan, dan main pura-pura (berdasarkan teori Jean Piaget). Juga mengembangkan tujuh kecerdasan dasar (multiple Intelligences menurut teori Howard Gardner). Sebagai sekolah Islam, Ibu Wismiarti memperkuatnya dengan pembangunan 18 Sikap, nilai-nilai yang diambil dari 99 Asmaul Husna, yang sangat penting dihayati dan dialirkan oleh para guru kepada anak-anak di setiap Sentra. Dengan semua itu, anak-anak diharapkan menjadi insan kamil, yang understanding dan adaptable.

Ada tujuh sentra yang dikembangkan di Sekolah Al-Falah, yaitu Sentra Balok,  Bahan Alam, Seni, Persiapan, Main Peran Besar, Main Peran Kecil, dan Imtaq. Metode Sentra menggunakan kurikulum individual disesuaikan kebutuhan dan tahap perkembangan anak (Jean Piaget). Sehingga, hal yang pertama kali harus dibangun adalah kemampuan guru untuk bisa membaca tahap perkembangan siswa dan memberikan dukungan pembelajaran yang sesuai. Untuk itu, jumlah siswa di tiap kelas dibatasi maksimum 12 anak.

Sistem pendidikan dengan paradigma baru itulah yang juga dikembangkan di  sekolah gratis untuk kaum dhuafa – belakangan predikat ini kami ubah, agar lebih positif dan membuat anak merasa bangga, menjadi ”sekolah beasiswa insan kamil” -- Batutis Al-Ilmi, yang kami kelola sejak 2005 di Bekasi. Hasilnya? Saya percaya, hanya dengan paradigma baru seperti itulah, kita akan bisa menghasilkan generasi baru (pemimpin) bangsa yang lebih baik dan berakhlak
mulia! Insya Allah.[]

*Yudhistira ANM Massardi adalah sastrawan, pengelola lembaga pendidikan dasar Sekolah Beasiswa Insan Kamil TK-SD Batutis Al-Ilmi di Bekasi.
Share:

Thursday, February 7, 2013

Sekilas Metode Sentra

Mengawali tahun 2013, akhirnya IGI Bekasi kembali menunjukkan taringnya. Hari ini, 27 Januari 2013, perdana di tahun 2013, IGI Bekasi mengadakan seminar yang bertajuk “Pendidikan Karakter dengan Metode Sentra”. Pembicara kali ini adalah Bapak Yudhistira Massardi beserta istri, Ibu Siska Yudhistira Massardi. Mereka adalah penulis buku dengan judul yang sama.

Metode sentra ini pertama kali diperkenalkan oleh ibu Wismi, pendiri Sekolah Al Falah di Ciracas. Ibu Wismi sendiri mengadopsi metode ini dari buku karya Dr. Pamela Phelps yang berjudul “Beyond Center and Circle Time”. Dengan mendatangkan langsung Pamela dari USA, Sekolah Al Falah mendapatkan pelatihan langsung mengenai metode sentra ini. Setelah hampir satu tahun pelatihan dan percobaan, barulah Sekolah Al Falah siap menerapkan metode sentra ini di sekolah mereka.


Sebenarnya apa yang membedakan metode sentra dengan metode yang banyak digunakan saat ini di banyak sekolah?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, mari kita menilik dulu berbagai hasil penelitian mengenai perkembangan anak-anak. Dalam bukunya “All I Really Need To Know I Learned in Kindergarten”, Robert Lee Fughum mengumpulkan beberapa hal yang ia dapat selama menjalani proses belajar di taman kanak-kanak, yaitu: berbagi, jujur, tidak pukul teman, kembalikan barang-barang ke tempat semula, buang sampah pada tempatnya, minta maaf, cuci tangan sebelum makan, siram WC, kue hangat dan susu dingin, hidup seimbang, tidur siang, kelak kamu keluar dunia berpegangan tangan.

Golden Age, atau masa emas anak-anak terjadi pada usia anak 0 hingga 7 tahun. Menurut penelitian, tingkat kecerdasan anak-anak dipengaruhi oleh peristiwa-peristiwa yang dialaminya saat ia masih di dalam kandungan. Besaran pengaruhnya bisa mencapai 3 kali lipat dibandingkan ketika anak sudah keluar dari rahim. Untuk itu banyak sekali para ibu hamil yang menstimulus hal-hal positif terhadap janin yang dikandungnya dengan memperdengarkan musik klasik, lantunan ayat-ayat suci al quran, dll. Tentu emosi ibu sangat mempengaruhi emosi anak selama dalam kandungan.

Menurut, Charles Wolfgang, dalam bukunya “Child Guidance Through Play”, ada 3 jenis permainan yang mampu merangsang kecerdasan anak, yaitu: (1) Main Sensorimotor atau Fungsional, (2) Main Peran (makro dan mikro), (3) Main Pembangunan (Bersifat cair dan terstruktur). Maka, sebenarnya, orang-orang jaman dahulu telah sangat mempertimbangkan kebutuhan bermain bagi perkembangan jiwa anak-anak, dengan banyak jenis permainan yang diciptakan. Mulai dari main galasin (geroba sodor), main karet, main petak umpat, dll. Sayangnya, permainan-permainan ini dianggap kuno dan modern dan tergeser oleh perkembangan teknologi mutakhir dengan game komputer dan sejenisnya.

Menilik dari beberapa penelitian di atas, maka kita harus bisa menemukan metode yang tepat untuk bisa mengembangkan kecerdasan anak sesuai porsinya. Metode sentra merupakan salah satu yang bisa kita lakukan. Sebenarnya, metode ini tidak jauh berbeda dengan metode tematik yang saat ini digunakan di banyak sekolah. Bedanya terletak pada pengkhususan masing-masing sentra, ketimbang menyatukannya dalam satu waktu.

Ada 6 pakem dalam pelaksanaan metode sentra ini, yiatu:

1. Tema

Materi ajar dikemas dalam satu tema, agar: (a) seluruh materi dapat diberikan secara penuh, (b) pembelajaran menjadi efektif dan efisien dimana proses dapat terukur secara waktu, terukur secara materi, materi dapat dipilih yang dekat dengan anak dan diberikan secara kongkrit.

Merupakan fitrah anak memiliki sifat eksploratif. Mereka belajar menemukan sesuatu dengan trial dan error.

Misalnya: anak menumpahkan air dari botol, lalu air itu disentuh dan diacak-acaknya. Disini anak sedang belajar merasakan air secara nyata dengan sentuhannya. Tapi apa yang umumnya dilakukan oleh para orang tua, terutama ibu, mereka akan bilang “adek, koq airnya ditumpahin, basah deh meja/lantainya!” Dan dengan sigap bak pesulap, si ibu langsung mengambil lap, dan “voila” air disulap menjadi kering. Padahal, dibandingkan menjadi pesulap, ibu akan lebih baik mengajarkan anak dengan berkata “adek, kalau meja/lantainya basah, dikeringkan dengan lap ya?” Maka disini, anak akan belajar bahwa untuk mengeringkan sesuatu yang basah itu butuh lap, dan juga belajar bertanggung jawab bahwa setelah ia menumpahkan air, ia harus mengelapnya.

Jadi dalam proses belajar itu, pondasi utamanya adalah HAPPY. Ini berlaku kepada seluruh jenjang pendidikan. Anda perhatikan ketika siswa anda tidak respon terhadap apa yang anda lakukan, dipastikan pelajaran kita pasti membosankan. KIta pun harus sudah mulai mengubah kebiasaaan pikiran kita yang berkata “hari ini ngajar apa ya?” dengan ucapan “kita belajar apa dari anak-anak hari ini?”

2. Sentra

Setelah tema, kita harus memiliki sentra-sentra sebagai inti dari pembelajaran dengan metode sentra ini. Ada tujuh sentra yang sebaiknya diterapkan. (Di sekolah Batutis sendiri, sekolah gratis asuhan Bapak Yudhistira dan Ibu Siska ini, baru enam yang bisa diterapkan).

Ketujuh sentra tersebut adalah: (a) Sentra Persiapan (keaksaraan dan calistung), (b) Sentra Seni (kreatifitas, imajinasi, motorik halus dan kasar), (c) Sentra Bahan Alam (sains, sensori motor), (d) Sentra Balok (konstruksi, geometri, akurasi, keseimbangan), (e) Sentra Imtaq (ritual, dasar-dasar keberagamaan), (f) Sentra Main Peran Besar (profesi), (g) Sentra Main Peran Kecil (menjadi dalang).

Dalam setiap menyampaikan materi, perhatikan bahasa dan suara guru. Kita wajib menggunakan bahasa baku yaitu yang mengandung susunan subjek, predikat, objek, keterangan (SPOK). Hal ini untuk menumbuhkan kecintaan pada bahasa Indonesia dan membentuk karakter bangsa yang cinta bahasanya sendiri. Suara guru pun perlu diperhatikan. Guru tidak boleh berteriak. Karena suara yang melebihi batas normal, akan memicu syaraf otak untuk bereaksi dengan keras juga. Pada kasus anak-anak tertentu, bisa terjadi tantrum. Untuk itu suara harus selalu stabil. Dan yakinlah bahwa anak mendengar suara stabil kita.

Prinsip-prinsip pelaksanaan kegiatan di sentra adalah: SAY (guru menjelaskan - anak merespon), SHOW (guru memperlihatkan gambar, benda, dll), CHECK (guru memastikan konsep-konsep yang diterima anak itu BENAR melalui penuturan ulang (recalling) dan pengamatan hasil karya anak.

3. Circle Time

Semua kegiatan dilakukan dalam posisi duduk melingkar, agar tercipta suasana sejajar antara anak dengan guru. Dengan circle time ini juga kita dapat menatap anak satu per satu dengan leluasan tanpa ada batas dan jarak.

4. Non-Direct Teaching

(a) Guru tidak berdiri di depan kelas dengan kapur dan papan tulis (=> guru duduk di lingkaran bersama anak-anak), (b) Guru tidak memberikan informasi secara langsung dan satu arah (=> guru bercerita dan membangun interaksi aktif dengan anak), (c) Guru tidak bersikap sebagai “pengajar” bagi anak.

5. Discipline with Love

Guru dilarang melakukan 3 M: Dilarang “Melarang”, Dilarang Menyuruh, Dilarang Marah. Tentu hal ini dilakukan sesuai peraturan, dan setiap peraturan dilaksanakan dengan tegas disesuaikan dengan tahap perkembangan anak.

Guru dilarang Melarang => Agar anak menjadi berani bertindak dan berpendapat.

Guru dilarang Menyuruh => Agar anak memiliki inisiatif.

Guru dialarang Marah => Agar tidak kehilangan akal sehat.

6. Kurikulum Individu.

Anak dinilai berdasarkan perkembangan diri masing-masing. Itulah sekilas tentang pendidikan karakter dengan metode sentra.

Sesuatu yang sekilas tentu belum bisa dijadikan ilmu mendalam yang bisa membuat kita puas. Untuk itu pelatihan yang mendalam dan menyeluruh sangat diperlukan untuk bisa mendalami metode sentra ini. Sekolah Batutis terbuka bagi siapa saja yang berminat untuk mengadopsi metode ini dengan fee yang terjangkau bagi para peminat.

Semoga sedikit tulisan ini mampu membuka mata hati kita tentang pentingnya pendidikan karakter dan mencari metode yang paling tepat untuk bisa membentuk karakter anak bangsa yang baik.


Penulis : Nunung Nuraida
dikutip dari : http://edukasi.kompasiana.com/2013/01/27/metode-sentra-apa-itu-529183.html
Share: